Fadli Zon · Transcript · · Updated
Tadarus Puisi Ramadhan "Mata Luka Sengkon Karta" oleh Peri Sandi Huizache @perisandi @fadlizon – Transcript
Video by Fadli Zon · Watch the original on YouTube
Summary
AI-generated from the transcript. Verify details against the source video.
- Peri Sandi Huizache membacakan puisi berjudul Mata Luka Sengkon Karta yang didedikasikan untuk para petani.
- Sengkon menceritakan kehidupannya sebagai petani di Bojongsari yang menghidupi mimpi dari padi yang ditanam sendiri.
- Sengkon dan Karta ditangkap atas tuduhan perampokan serta pembunuhan di tengah kerumunan warga, ABRI, dan polisi.

Use this video with Pro
Reading, copying and transcript downloads are free. Create saved AI results for this video with a signed-in Pro account ($9/month).
Transcript
Search ignores accents. All transcript text stays visible.
saya akan membacakan puisi yang saya dedikasikan untuk para petani mata luka sengkon Karta serupa masumambang Pupuh mengantarkan wejangan hidup kecapi
[Musik] suar embalut nyeri menyatu dalam suara Genting terluka melukai luka-luka menganga akibat ulah manusia terengah-engah dalam tabung dan selang Aku seorang petani Bojongsari
menghidupi mimpi dari padi yang ditanam sendiri kesederhanaan panutan hidup dapat untung dilipat dan ditabung 1900 tanah air yang kucinta berumur 29 tahun waktu yang muda bagi berdirinya sebuah negara Lambang Garuda dasarnya Pancasila undang-undang 45 merajut banyak
peristiwa peralihan kepemimpinan yang mendesak Bung diganti PTO dengan keaman negaraembantai sat perwira jam dalam sat malam mati di lubang tak berguna tak ada dalam perang Mahabarata bahkan di sejarah dunia hanya di sejarah
Indonesia pemusnahan golongan kiri PKI wajib matiorit rencana pembangunan 5 tahun bisa jadi rencana pembantaian 5 tahun di tahun-tahun berikutnya kudapati penembak misterius tak ada salah apalagi benar tak ada
hukum negara pembantaian di mana-mana diburu sampai got dor di mulut dor di kepala dikatali Diani karung penguasa punya Tahta yang tidak ada bisa diada-ada akulah sengkon yang sakit berusaha
mengenang setiap luka di dada di punggung di batuk yang berlapis tuberkulosis malam Jumat 21 November 1974 setiap malam Jumat Yasin dilantunkan
dengan hidmat bintangbintang berzikir di kedipannya suara-suara binatang melengkingkan pujian untuk Tuhan istriku masih mengenakan mukena mengambilkan minum dari dapur di kejauhan terdengarga Desa gaduh
itu usir saja dari kamu sini bakar saja rumahnya bat di lubang bilik ada banyak obur dan petromak menyala teriakan tegas saudara sengkon saudara Sudah dikepung ABRI kamu selamat menyerahlah saudara tidak bisa kabur istriku kaget kok kamu Kang
kebingungan demi Allah saya tidak berbuat jahat masih dalam suara yang sama Kalau saudara tidak mau keluar dalam hitungan tiga kami akan mengeluarkan tembakan peringatan satu secepat yang aku bisa di pintu ratusan warga mulai melontarkan sumpah serapa
anjingi bagung sampah [Musik] segalanya ada di mulut warga kata-kata tak mewakili premanusiaan warga desa bengis seperti Serigala tak ada rasa kasihan dari batu sampai Bambu dari golok sampai balok diacung-acungkan ke arahku serentak berkata Allahu
akbar batu bambu dan balok beterbangan ke arahku saudara-saudara Sekalian tolong hentikan biarkan pengadilan yang memutuskan hukuman aku masih diselimuti kebingungan disambut Raja seluruh badan kepalaku ditolong senjata Raras panjang mendekati
puluhan ABRI dan polisi ya gantung saja Dasar orang yang tak tahu diri ah sampai masyarakat [Musik] [Tertawa] anjing [Musik] gobl dulur aing
[Musik] gara-gara aku dikerumuni pukulan warga AB dan polisi ikut-ikutan menendang suara tembakan di langit terdengar akuar di AB ek tanah bercampur dirubuh aku dilemparkan ke atas bak mobil kondisi
antara sadar dan tidak selang kejadian sesosok tubuh lemparkan lagi ke atas bak mobil kuperhatikan wajah yang penuh luka itu Karta kami ditangkap atas tuduhan
perampokan juga pembunuhan sengkon dan karta terima kasihamikum [Tepuk tangan]