tubetranscript.io

Nadia Omara · Transcript · · Updated

PULANG - KHW PART 400 – Transcript

Video by Nadia Omara · Watch the original on YouTube

Summary

AI-generated from the transcript. Verify details against the source video.

  • Rizki mengetahui kondisi Mbak Santi yang lebam dan mendapat laporan dari Tata mengenai kekerasan yang dilakukan oleh papanya.
  • Keluarga Fajar dikabari bahwa Mbak Santi meninggal karena gantung diri dan warga kampung mulai mengalami berbagai kejadian janggal.
  • Surat peninggalan Mas Edo mengungkap bahwa ia melakukan praktik pesugihan dan telah menghilangkan nyawa Mbak Santi.
Video thumbnail: PULANG - KHW PART 400
Source video on YouTube · Transcript generated automatically and may contain errors.

Use this video with Pro

Reading, copying and transcript downloads are free. Create saved AI results for this video with a signed-in Pro account ($9/month).

Transcript

Search ignores accents. All transcript text stays visible.

Di tengah ujian yang sedang melanda negeri ini, semoga Allah segera menghadirkan lagi pertolongannya. Meredakan segala kesulitan dan menggantikan rasa takut serta kesedihan dengan keselamatan dan ketenangan.

Semoga Allah senantiasa melindungi saudara-saudara kita yang sedang menghadapi musibah. Memberikan kekuatan dan keselamatan bagi para petugas yang berjuang di lapangan. Serta menurunkan hujan sebagai rahmat dan pertolongan untuk memadamkan kebakaran.

Semoga segala bencana yang melanda segera berakhir. Alam yang terluka kembali pulih dan negeri ini senantiasa berada dalam lindungan serta keberkahannya. Amin.

Pray for Indonesiaku.

Hai Wa, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih sudah klik video ini. Wa, alhamdulillah akhirnya malam ini kita sampai juga di KHW yang paling ditunggu-tunggu, yaitu KHW part 400. Masya Allah, jujur aku enggak nyangka Wa, aku terharu KHW bisa nemenin kalian sampai di episode 400. 400 pastinya aku ngucapin terima kasih banyak karena kalian sudah setia mungkin nonton KHW dari part 1 sampai part

sekarang ya kan. 400 part ini bisa terwujud berkat kalian semua Wa Wa Wa Wa ku se-Nusantara yang terus setia ngasih dukungan. Berkat Wa Wa Wa Wa narasumber yang sudah bersedia berbagi ceritanya ke kami dan tentunya berkat seluruh tim yang selama ini sudah bekerja keras di balik layar. Semoga ke depannya KHW bisa terus berkembang, bisa menghadirkan cerita-cerita yang berkesan, menghadirkan cerita-cerita yang bisa diambil pelajarannya dan

tetap menjadi bagian dari malam-malam kalian ya, Wak, ya. Ya Allah. Oke. Sesuai request kalian, bisa kalian lihat durasi video malam ini ya, kan. Aku waktu syuting ini enggak tahu berapa tepatnya ya.

Tapi aku yakin ini pasti panjang kali. Alhamdulillah kami dapat kiriman kisah yang bisa memenuhi durasi permintaan kalian. Dan selain itu aku tahu seperti yang sudah kalian lihat dari awal ya, set tempat syutingnya juga berbeda. Kok pindah studio lagi, Nadia? Enggak, aku baru pindah studio yang baru nih, spesial KHW 400 ini aku enggak syuting di studio, Wak. Tapi aku syuting di sebuah bangunan tua yang kosongnya juga sudah puluhan tahun. He eh, lokasi ini kami pilih

karena kami memang mau atau di KHW spesial 400 ini kami mau menghadirkan suasana yang berbeda dari episode-episode sebelumnya. Jadi, selain durasi cerita yang lebih panjang, kami juga mau menjadikan KHW 400 ini sebagai pengalaman menonton yang berbeda. Bisa juga sekaligus jadi kenangan spesial buat kalian yang sudah setia menemani perjalanan KHW sampai sejauh ini.

[terkesiap] Dan yang terpenting, selain durasi yang panjang, set studio yang berbeda, yang tidak biasanya ya, kan, bisa ku pastikan kisah dari KHW 400 yang akan aku bawakan malam ini epik dan kompleks sekali, Wak. Kisah horornya ada, sedihnya ada, bahkan kriminalnya juga ada.

Ya, ini sebelum memulai memang tidak seperti biasanya Wak, aku akan membacakan langsung email pembuka dari wawak narasumber KHW 400 kali ini, yaitu Mas Rizki. Dengerin ya. Mas Rizki ngasih judulnya "Penyesalan Selalu Datang Terakhir". Halo, Nad.

Kenalin, nama aku Rizki. Izin berbagi sebuah cerita ya, Nad. Cerita ini aku tulis bersama dua teman baikku, Fajar dan Dimas. Kisah yang kami tuliskan ini bukan cerita fiksi, melainkan pengalaman nyata yang benar-benar dialami oleh keluarga kami sekitar belasan tahun yang lalu. Seluruh cerita, kejadian, dan tokoh di dalamnya kami tuliskan berdasarkan apa yang kami alami dan ketahui saat itu. Untuk

menjaga privasi, beberapa nama dalam cerita sengaja kami samarkan. Para tokoh yang kisahnya kami ceritakan juga sudah memberikan izin kepada kami untuk membagikan kisah ini dan mempublikasikannya ke YouTube Nadia Omara. Kami menulis cerita ini bukan semata-mata untuk menceritakan kembali masa lalu. Lebih dari itu, cerita ini menjadi pengingat bagi kami bahwa

belasan tahun yang lalu kami pernah melewati sebuah pengalaman yang begitu berat. Sebuah pengalaman yang sampai hari ini masih melekat dalam ingatan kami. Mungkin bagi orang lain cerita ini hanya akan menjadi sebuah kisah, tetapi bagi kami setiap bagian di dalamnya menyimpan kenangan, rasa kehilangan, ketakutan, dan perjuangan yang benar-benar pernah kami lalui. Semoga cerita ini bisa menjadi pengingat bahwa seberat apapun sebuah ujian yang pernah kita

lewati, pada akhirnya kita tetap bisa bertahan dan melanjutkan kehidupan. Izin kami berbagi kisah ini, Nat. Semoga berkenan untuk dibaca dan apabila dianggap sesuai dapat menjadi bagian dari cerita di kanal Nadia Omara. Itu pembuka email dari Wawa KHW 400. Terima kasih banyak Mas Rizki, Mas Fajar, dan Mas Dimas sudah mempercayakan kisah ini untuk aku ceritakan. Jadi spesial juga di KHW ini,

Wak. Tiga Wawa yang ngalamin ini, Rizki, Dimas, Fajar, ya kan? Dan bercerita untuk satu kisah. Dan untuk menghormati privasi serta kenyamanan semua pihak yang terlibat, kami memutuskan untuk tidak menyebutkan nama asli pengirim cerita. Memang makanya tadi di-blur, ya.

Nama asli orang-orang yang terlibat dalam cerita juga tidak karena itu permintaan dari Wawa. Tahun kejadian pada saat peristiwa terjadi juga tidak kami sebutkan dan lokasi kejadian juga tidak kami sebutkan. Semoga keputusan ini bisa kalian pahami, karena pada akhirnya yang ingin Rizki, Fajar, dan Dimas bagikan kepada kita semua adalah kisahnya, Wak, tanpa harus mengungkap identitas dan juga kehidupan pribadi orang-orang yang ada di dalamnya.

Semakin nantinya aku yakin, semakin kalian menyimak kisah ini dari awal sampai akhir, aku yakin kalian sendiri bisa paham kenapa kami merasa sangat perlu menjaga privasi dan juga menjaga identitas semua pihak yang terlibat di dalamnya, Wak. Aku yakin kalian akan mengerti.

Oke. Bismillah, [menghela napas] tanpa berlama-lama, kita langsung masuk aja ke ceritanya. Check it out. Oke, Wak, jadi kisah kali ini diawali dengan Rizki, wawak si pengirim cerita.

Waktu itu Rizki tinggal di sebuah kampung yang kita sebut aja namanya Kampung A, bersama bapak, ibu, dan kakaknya. Rizki ini punya kawan dekat, namanya Fajar, itulah Fajar tadi. Rumah mereka tuh enggak jauhan, Wak, tapi masih satu RT. Mereka ini udah temenan dari kecil dan hubungan mereka juga udah kayak keluarga sendiri. Setelah lulus SMA, mereka jadi jarang ketemu karena Rizki, wawak, memutuskan kuliah di Kabupaten B, sedangkan Fajar, wawak kita yang kedua, kerja di sebuah tempat yang

ada di dekat rumahnya, masih di Kampung A gitu loh, masih satu kota sama Kampung A. Tapi meskipun mereka ini tinggal berjauhan, mereka tetap saling kontakkan, Wak. Mereka tetap menjaga silaturahmi lah gitu, orang bestie dari kecil mereka berkawan. Nah, balik ke Fajar. Fajar ini adalah anak kedua dari dua bersaudara. Bapaknya namanya Pak Sabar, ibunya namanya Bu Nur. Dan Fajar punya satu kakak perempuan namanya Mbak Santi. Nah, Mbak Santi sendiri, Wak, udah menikah, dia

punya suami namanya Mas Edo, terus mereka punya satu anak perempuan namanya Tata yang saat itu masih berusia 4 tahun. Dan keluarga kecil yang Mbak Santi ini tinggalnya di Kabupaten B, Wa. Which is satu daerah, satu tempat, nah dia satu kota sama kampusnya si Rizki.

Rizki kan kuliah tuh di Kabupaten B, tinggal satu daerah. Nah, keluarganya Mbak Santi inilah, Wa, yang akan menjadi pusat cerita kita malam ini. Kita masuk ke Mbak Santi. Jadi, [musik] keluarga kecil yang Mbak Santi ini dikenal adem ayem, Nadia. Mas Edo, suaminya, punya usaha jualan buah-buahan di pasar induk dekat rumah. Usahanya lancar, pelanggannya ada di mana-mana,

kehidupan mereka berkecukupan juga. Sementara Mbak Santi, dia fokus mengurus rumah dan juga merawat Tata. Nah, keluarga Mbak Santi ini juga dikenal baik kali, Wa. Rizki yang tinggal di kabupaten yang sama sama Mbak Santi itu juga sering tuh mampir ke rumahnya Mbak Santi tiap kali dia mau pulang kampung ke kampung A atau waktu dia baru balik dari kampung A mau ke kosan, selalu.

Karena memang rumahnya itu masih satu jalan rute balik kampungnya si Rizki, Wa. Apalagi Pak Sabar sama Bu Nur tuh, orang tuanya Mbak Santi sama Fajar, juga sering nitip barang lewat si Rizki. Mulai dari sayur-mayurlah, baju-bajunya buat Tatalah, sampai keperluan lainnya. Nitip sama [musik] si Rizki, nanti dimampirin ke rumahnya Mbak Santi. Nah, setiap kali nganterin barang-barang itu juga Rizki enggak langsung pulang, Wa, ya. Biasanya dia masuk dulu, minum dulu, ngobrol-ngobrol dulu, main dulu sama Tata, bahkan juga sampai makan bareng orang itu. Mas Edo, suaminya Mbak Santi

itu juga sering tuh, Wa, ngebekelin si Rizki buah-buahan atau juga jajanan pasar gitulah. Nah, untuk aku bawa ke kosan atau untuk aku bawa balik kampung. Nah, dari situ aja, Wa, Rizki jadi cukup dekat dengan keluarganya Mbak Santi, kakak sahabatnya. Dan selama bolak-balik ke rumah mereka itu, Rizki itu enggak pernah sekalipun melihat ada masalah antara Mbak Santi sama Mas Edo. Di matanya Rizki, di mata kami semua bahkan, Nadia, mereka adalah keluarga yang dermawan, hidupnya rukun,

dan juga saling menyayangi. Kelihatan. Tapi, ternyata ada banyak hal yang tidak Rizki ketahui tentang keluarga ini, Wak. Dan semuanya baru mulai terungkap setelah sebuah kejadian yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Suatu hari, Wak. Waktu lagi libur kuliah, Rizki balik kampunglah kan ke rumahnya ke kampung A itu. Nah, seperti biasa sebelum berangkat Rizki menyempatkan diri dulu mampir ke rumahnya Mbak Santi. Nah, di sana dia ngambil beberapa barang titipan yang Mbak Santi, Wak, untuk memang dibawa balik ke kampung, ya kan.

Diambilnya barang itu, baliklah dia ke kampung. Nyampai di kampung A, Rizki menjalani aktivitasnya seperti biasa. Dan kebetulan besok harinya atau tepat di hari kedua Rizki berada di kampung ini, ada pertandingan final sepak bola, nah dia. Udah lama juga aku sama si Fajar nunggu-nungguin itu. Akhirnya Rizki sama Fajar sepakat buat nobar sekaligus nginap di rumahnya Rizki.

Fajar nginap di rumah Rizki nih. Nah, malam harinya Fajar datanglah ke rumah Rizki. Mereka habiskanlah malam itu dengan nonton bola, ya kan. Dan setelah pertandingan selesai, baru mereka tidur tuh istilahnya. Besok paginya, 3 hari setelah si Rizki balik kampung, waktu mereka baru aja bangun, tiba-tiba HP-nya Fajar bunyi. Waktu dicek ternyata yang nelpon Evan. Evan ini siapa?

Frequently asked questions

Keluarga Fajar dikabari bahwa Mbak Santi meninggal karena gantung diri di kusen pintu dapur.

Mbak Maya selaku sahabat SMA Mbak Santi menceritakan bahwa Mbak Santi pernah menemuinya dan memintanya menyimpan chat curhatan tentang Edo.

Surat peninggalan Mas Edo mengungkap bahwa Mas Edo melakukan praktik pesugihan dan telah menghilangkan nyawa Mbak Santi karena bertengkar.