channel PERADABAN INDONESIA · Transcript · · Updated
Kajian Filsafat | Filsafat Bahasa: Bahasa, Pikiran, dan Realitas – Transcript
Video by channel PERADABAN INDONESIA · Watch the original on YouTube
Summary
AI-generated from the transcript. Verify details against the source video.
- Kajian filsafat bahasa seringkali mengangkat ungkapan yang saling bersinggungan yaitu bahasa, pikiran, dan realitas.
- Fungsi bahasa adalah bagaimana manusia menyampaikan, menceritakan, atau mengungkapkan sesuatu tentang berbagai macam realitas.
- Dalam kajian linguistik atau filsafat bahasa, terdapat ruang lingkup kajian yang bersifat mikrolinguistik dan makrolinguistik.

Use this video with Pro
Reading, copying and transcript downloads are free. Create saved AI results for this video with a signed-in Pro account ($9/month).
Transcript
Search ignores accents. All transcript text stays visible.
[musik] Bismillahirrahmanirrahim. [musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jumpa lagi dengan saya di channel Peradaban Indonesia [musik] yang pada kali ini saya akan mengulas tema-tema
filsafat bahasa. [musik] Namun pada kali ini saya akan mengangkat [musik] salah satu ungkapan yang ada dan yang sering diulang-ulang dalam filsafat bahasa, yaitu bahasa, pikiran dan [musik] realitas. Nah, bahasa pikiran dan realitas ini ada dalam subpembahasan di kajian filsafat bahasa ee yang
mengutarakan tentang bagaimana posisi atau peran dari tiga [musik] aspek tersebut. Yaitu pertama bahasa, kedua pikiran, dan yang ketiga adalah realitas.
[musik] Nah, sebelum saya menjelaskan secara rinci [musik] ee saya ingin menyampaikan secara umum terlebih dahulu [musik] kenapa kajian filsafat bahasa itu juga seringki mengungkap tentang beberapa item, beberapa aspek yang memang satu dengan yang lainnya itu [musik] sering bersinggungan ya dan saling
bertalian antara satu dengan yang lainnya karena memang dalam kajian [musik] filsafat bahasa, apakah itu filsafat itu sendiri maupun bahasa itu sendiri, sebenarnya pada hakikatnya itu tidak bisa berdiri sendiri ya. Karena pada dasarnya memang ee secara historis itu sendiri kalau kita ingin ee menengok
ke belakang ya, bahwa para filosuf-filuf [musik] di zaman Yunani itu sendiri baik itu Sokrates, Plato, Aristo, dan lainnya ya. Nah, itu memang sejak awal dahulu [musik] ya sudah membahas tentang ee bagaimana posisi dari logika itu sendiri atau filsafat itu sendiri [musik]
maupun ee bahasa itu sendiri. Nah, sehingga dalam perkembangannya hingga sampai pada abad [musik] modern ini ya itu aspek-aspek tersebut akan saling bersinggungan satu dengan yang lainnya.
Nah, oleh karena itu ee baik itu bahasa [musik] kemudian pikiran. Nah, dua aspek ini yang mungkin sudah pernah saya singgung terlebih dahulu ya, memiliki peran yang sangat signifikan.
Tidak mungkin seorang manusia [musik] itu tidak mungkin seseorang itu akan mampu berpikir dengan baik, akan mampu berimajinasi [musik] dengan baik kalau tidak menggunakan nalar logikanya secara baik. ya. Dan sebaliknya juga ee hampir pasti ya orang
yang [musik] memiliki tuturan kata sistematika bahasa yang teratur ya itu akan ee mempengaruhi alur pikirannya itu sendiri ya. Nah, sehingga hampir dipastikan juga seseorang entah itu [musik] seorang ee apa berpendidikan
ataupun orang biasa [musik] kalau dia memiliki apa ee retorika berbahasa secara baik dan benar, [musik] maka hampir dipastikan juga dia memiliki pola berpikir yang baik dan benar.
Nah, sebagaimana juga orang yang memiliki pola berpikir secara sistematis [musik] misalnya atau struktur gaya berpikirnya itu sudah tersusun dengan baik, maka biasanya akan diiringi juga dengan ungkapan-ungkapan ee atau pembahasaan [musik] atau retorikanya ee dengan retorika
bahasa yang baik dan benar. Nah, itu yang saya maksud ya, [musik] bahwa memang dalam kehidupan manusia sehari-hari antara filsafat ee antara logika ya atau mungkin dengan bahasa lainnya itu pikiran ya dengan bahasa itu saling bersinggungan antara satu dengan yang lainnya.
Nah, lalu kemudian bagaimana dengan realitas ya? Nah, ada salah satu definisi yang sering kita dengar kalau belajar tentang filsafat bahasa ya.
Bahwa memang fungsi dari bahasa itu sendiri adalah bagaimana manusia itu menyampaikan sesuatu, menceritakan sesuatu, mengungkapkan sesuatu tentang berbagai macam realitas. Nah, itulah yang disebut atau yang dimaksud dengan manusia itu berbahasa.
Jadi, orang yang berbahasa itu tidak lain dan tidak bukan adalah ee bagaimana ia mengungkapkan tentang berbagai macam realitas [musik] yang ada dalam kehidupannya.
Contoh misalnya kita menceritakan tentang kejadian-kejadian yang terjadi di suatu [musik] hari misalnya atau misalnya kita ini ingin menyampaikan berbagai macam peristiwa-peristiwa [musik] yang dia alami ya yang kita alami terhadap seorang teman, [musik] seorang sahabat atau mungkin
terhadap ee orang lain siapa apapun orangnya ya. Nah, itu kan tidak lain dan didabukan adalah ia sedang berbahasa ya, ia sedang berkomunikasi, [musik] ia sedang menyampaikan ide, pikiran gagasannya. Nah, oleh karena itu memang secara langsung maupun secara tidak langsung bahwa setiap orang [musik] atau seorang manusia
saat dia berpikir dan membahasakan sesuatu [musik] tentang realitas yang ada dalam kehidupan sehari-hari [musik] ya kenyataan sehari-hari. Itulah yang dimaksud dengan mereka [musik] itu sedang berbahasa. Nah, lebih luas lagi mungkin seorang musisi, pujangga, seorang penulis, [musik] seorang
sastrawan ya akan menceritakan tentang suatu kejadian besar atau kejadian kecil [musik] atau kejadian yang unik ya. atau mungkin dia akan menceritakan seorang tokoh imajiner, [musik] seorang tokoh ee yang [musik] ia bangun dalam dunia mimpinya atau yang sering [musik]
disebut dengan dunia novel ya, dunia sastra. Nah, tentunya dia juga pasti akan menggunakan bahasa, akan diolahnya dalam pikirannya dengan berbagai macam fenomena-fenomena atau kejadian-kejadian, peristiwa-peristiwa, data-data yang [musik] sering disebut dengan realitas. Nah, itulah makanya ee dalam [musik]
kesempatan ini saya ingin menyampaikan bahwa memang dalam kajian filsafat bahasa itu antara tiga aspek utama itu tidak akan bisa terpisahkan. Yaitu pertama bahasa, kedua pikiran, dan ketiga realitas.
Nah, baik. seperti yang sudah dijelaskan pada kesempatan-kesempatan [musik] sebelumnya ataupun dalam definisi bahasa yang tadi baru saja saya ulang kembali ya sering disebut memang satu-satunya alat atau metode yang paling efektif adalah bagaimana dalam berpikir ataupun berkomunikasi itu antara manusia satu
dengan manusia [musik] lain itu adalah ee ee dia menggunakan ee bahasa [musik] ataupun satu-satunya metode yang paling efektif untuk berpikir ee [musik] seorang manusia itu ya dengan bahasa atau mungkin ee barangkali di antara kita sudah pernah ada yang mencoba
menggunakan metode lain atau cara lain atau alat lain ya. [musik] Dulu kita pernah belajar di masa ya masa remaja kitalah ya ee saat [musik] kita aktif di kegiatan-kegiatan schol ataupun kegiatan-kegiatan pramuka [musik] ya. Bagaimana kita belajar tentang bahasa morse, bahasa semapur ya yang pakai bendera
itu. [musik] Lalu mungkin dengan bahasa isyarat dan lain sebagainya. Namun ee [musik] ya sebagai perbandingannya bahwa bahasa-bahasa tersebut baik itu bahasa ee sandi ataupun bahasa Morse, bahasa semapur ataupun bahasa isyarat telah ee terbukti sampai saat ini ya kalau [musik]
di kalau tidak dikatakan tidak efektif ya memang kurang efektif ya. Bagaimana coba kalau kita ee mengembangkan bahasa-bahasa [musik] tersebut dengan bahasa tulis ya, maka mungkin tantangannya akan lebih rumit lagi ya, bentuk gambar, bentuk tulisannya [musik] seperti apa dan seterusnya dan seterusnya. Nah, sehingga memang sampai
saat ini ya bahasa yang paling efektif digunakan adalah bahasa yang selama ini kita gunakan. Lalu hubungannya antara bahasa dan pikiran itu ya ee mungkin dapat kita katakan di sini adalah sebagai hukum kausalitas kan ya, hukum sebab akibat. Karena memang setiap orang yang bersusastra
ataupun berfilsafat baik secara lisan maupun secara tulisan ya tidak lain dan tidak bukan juga sebagai seorang yang sedang berbahasa kan. atau menyusun kata-kata kan atau bagaimana dia sedang menyempurnakan kalimat-kalimat demi kalimat kan ee hingga akhirnya muncul [musik] satu ee wacana yang mengandung
pemikiran-pemikiran filsafat, pemikiran-pemikiran ataupun cerita-cerita yang sastrawi. Ya, [musik] tentunya dengan apa? Dengan menggunakan bahasa ya. Nah, itulah memang bahwa [musik] bahasa ini dengan pikiran itu ee tidak bisa terpisahkan begitu saja. [musik] Nah, nanti akan cukup panjang ya penjelasannya bahwa memang antar